HERMAWAN, Muhammad Galuh and Purnomosid, Faqih and Ernawati, Sri (2026) Gambaran Subjective Well-Being pada Siswa Pasca Toxic Relationship di SMA Batik 1 Surakarta. Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 11 (03). pp. 1-11. ISSN 2548-6950
|
Text
Galuh Hermawan_Hal. Awal_2022031018.pdf Download (3MB) |
|
|
Text
Galuh Hermawan_Bab I-II_2022031018.pdf Download (2MB) |
|
|
Text
Galuh Hermawan_Bab III-IV_2022031018.pdf Restricted to Repository staff only Download (2MB) | Request a copy |
|
|
Text
Galuh Hermawan_Bab V_2022031018.pdf Download (1MB) |
|
|
Text
Galuh Hermawan_Daftar Pustaka_2022031018.pdf Download (1MB) |
|
|
Text
Galuh Hermawan_Lampiran_2022031018.pdf Download (7MB) |
Abstract
Masa remaja merupakan fase perkembangan yang ditandai oleh pencarian identitas diri dan eksplorasi hubungan romantis. Namun, sebagian remaja mengalami toxic relationship, yaitu hubungan yang ditandai dominasi, manipulasi emosional, dan kontrol berlebihan, yang berdampak negatif terhadap subjective well-being (SWB). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran subjective well-being pada siswa SMA Batik 1 Surakarta pasca mengalami toxic relationship. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi deskriptif. Informan penelitian berjumlah enam siswa berusia 16–18 tahun yang pernah terlibat dalam toxic relationship, dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama berada dalam toxic relationship, informan mengalami dominasi afek negatif berupa kecemasan, ketergantungan emosional, dan penurunan harga diri. Setelah hubungan berakhir, informan menunjukkan peningkatan afek positif dan kepuasan hidup melalui penguatan spiritualitas, pelepasan pola pikir obsesif, serta pembentukan kompetensi diri lewat aktivitas baru. Dukungan sosial dari teman sebaya berperan penting sebagai faktor pemediasi dalam proses pemulihan, baik melalui distraksi positif, dukungan emosional, maupun reframing kognitif. Proses pemulihan berlangsung secara bertahap dan tidak selalu linear, karena masih ditemukan residu emosional pada sebagian informan. Dengan demikian, pengalaman toxic relationship tidak selalu berakhir pada penurunan subjective well-being yang permanen, tetapi dapat menjadi titik awal pertumbuhan pribadi berupa penguatan otonomi diri dan kemampuan membangun relasi yang lebih sehat.
| Item Type: | Article |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | subjective well-being, toxic relationship, siswa |
| Subjects: | B Philosophy. Psychology. Religion > BF Psychology |
| Divisions: | Fakultas Sosial, Humaniora dan Seni > Psikologi |
| Depositing User: | Muhammad Galuh Hermawan |
| Date Deposited: | 30 Sep 2026 04:31 |
| Last Modified: | 30 Sep 2026 04:31 |
| URI: | https://repository.usahidsolo.ac.id/id/eprint/4196 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
